Cristiano Ronaldo, Antara Kematian dan Keajaiban Madeira

November 2000. Cristiano Ronaldo duduk di salah satu bangku ruangan Rumah Sakit Lisbon, Portugal. Wajahnya cemas. Di depannya terpampang alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) beserta dokter spesialis penyakit jantung.

“Apakah aku akan meninggal?” ujar Ronaldo.

“Tidak hari ini,” dokter tersebut mencoba menjawab pertanyaan Ronaldo, yang baru berusia 15 tahun.

Aurelio Pereira, pelatih tim muda Sporting CP, yang menemani Ronaldo dalam ruangan tersebut mencoba menimpali jawaban dokter itu, “Apakah ini serius?”

“Penyakit jantung akan selalu menjadi ‘bisnis’ yang serius. Bagus bisa membawa dia ke sini. Lihat di sini?” kata sang dokter sembari menunjuk titik hitam pada salah satu hasil foto scan MRI tubuh Ronaldo.

“Itu adalah salah satu cacat di jantungnya. Mungkin berasal dari sejak dia lahir. Dalam kasus ini, saya akan membuat jadwal operasi,” katanya lagi.

Mendengar jawaban itu, jantung Cristiano Ronaldo berdetak semakin cepat. Mulutnya beberapa kali menelan ludah. Ia cemas, namun bukan karena takut akan kematian, melainkan kehilangan mimpi besarnya: menjadi pesepak bola.

“Apakah dia bisa kembali bermain sepak bola?” Pereira kembali melontarkan pertanyaan.

Sang dokter pun terdiam cukup lama sebelum akhirnya memberikan jawaban. “Sejujurnya, saya tidak tahu,” kata dia singkat.

— Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner karya Michael Part —

Keajaiban

Kisah di atas merupakan pengalaman pertama bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo ketika dihadapkan ketakutan besar dalam hidupnya. Tidak hanya bagi Ronaldo, tetapi juga Dolores Aveiro, sang ibu.

“Dia menjalani operasi pagi dan selesai sore hari. Sebelum kami tahu apa penyakit sebenarnya, saya sangat khawatir karena ada kemungkinan dia menyerah bermain sepak bola,” kata Dolores, seperti dilansir The Telegraph, 29 Januari 2009.

Untungnya, operasi Ronaldo berjalan sukses. Gairah bermain bola-nya pun tak hilang. Bahkan, menurut Dolores, putranya hanya membutuhkan waktu satu pekan untuk kembali berlatih di lapangan setelah operasi.

Cristiano Ronaldo ketika berkarier bersama Sporting Lisbon. (The Telegraph).
Cristiano Ronaldo ketika berkarier bersama Sporting Lisbon. (The Telegraph).

 

Cepatnya masa pemulihan Ronaldo sempat membuat beberapa tim pelatih Sporting CP khawatir. Namun, kekhawatiran itu ternyata berlebihan. Saat berlatih, Ronaldo terus berlari, mengejar, dan menggiring bola dengan lihai untuk mengecoh lawan.

“Ini keajaiban. Cristiano Ronaldo adalah keajaiban!” ujar Paulo Cardoso, pemandu bakat Sporting CP, saat menyaksikan permainan Ronaldo di lapangan.

Pereira pun seakan tak percaya menyaksikan permainan anak asuhnya tersebut setelah operasi. “Saya bersumpah dia sekarang lebih cepat dan lincah daripada sebelum operasi. Apakah itu mungkin terjadi?” tuturnya.

Pada akhirnya, keajaiban itu berlanjut mengiringi perjalanan panjang karier Ronaldo dalam dunia sepak bola. Sekarang, Ronaldo adalah legenda, tidak hanya bagi dunia, tetapi juga masyarakat Madeira, Portugal, tempat kelahirannya.

Toh, orang Portugal punya pepatah: Tempo para curar todas as lesoes. Waktu akan menyembuhkan segala luka. Bagi Ronaldo, luka itu bukan hanya berasal dari penyakit jantung yang pernah dideritanya, tetapi juga ketika ia memulai perjuangan keras saat pertama kali mengenal sepak bola di Madeira.

Madeira

Inilah kawasan Quinta Falcao, tempat masa kecil Cristiano Ronaldo dan keluarganya tinggal yang terletak di Funchal, Madeira, Portugal, (29/4/2016). (AFP/Patricia De Melo Moreira)
Inilah kawasan Quinta Falcao, tempat masa kecil Cristiano Ronaldo dan keluarganya tinggal yang terletak di Funchal, Madeira, Portugal, (29/4/2016). (AFP/Patricia De Melo Moreira)

Cristiano Ronaldo lahir pada 5 Februari 1985, di Santo Antonio, salah satu wilayah miskin di Funchal, ibu kota Kepulauan Madeira. Bahkan, menurut Michael Part dalam karyanya Cristiano Ronaldo: The Rise of a Winner, Ronaldo adalah anak yang tidak “direncanakan” dari pasangan Dolores dan Jose Dinis Aveiro.

Semasa kecilnya, Ronaldo tidur dalam satu kamar bersama ketiga saudaranya. Kesehariannya jauh dari kata kemewahan. Mainan atau kado Natal pun tidak pernah mereka dapatkan. Meski begitu, Ronaldo mengaku tetap bahagia meski hidup dalam kesederhanaan.

“Itu (kamar tidur) adalah ruangannya yang kecil, tetapi saya tidak memedulikannya. Bagi kami, itu (hidup sederhana) normal dan itulah yang hanya saya tahu. Semua orang di sekitar kami hidup dengan cara yang sama dan kami semua bahagia,” ungkap Ronaldo, mengenang kehidupan masa kecilnya di Madeira.

 

 

Pesepak bola muda berdiri di depan foto Cristiano Ronaldo saat masih bermain di CF Andorinha ketika berusia 7-9 tahun di Funchal, Madeira, Portugal, (30/4/2016). (AFP/Patricia De Melo Moreira)
Pesepak bola muda berdiri di depan foto Cristiano Ronaldo saat masih bermain di CF Andorinha ketika berusia 7-9 tahun di Funchal, Madeira, Portugal, (30/4/2016). (AFP/Patricia De Melo Moreira)

 

Ya, dari kesederhanaan itulah Ronaldo mengusung mimpi besar di Madeira untuk menjadi pesepak bola nomor satu dunia. Sekarang, mimpi itu kiranya telah berhasil ia raih. Berbagai kesuksesan, mulai dari trofi bergengsi, hingga penghargaan pribadi menjadi tersimpan di lemari koleksi.

Madeira, tanah kelahirannya yang puluhan tahun lalu asing di mata wisatawan luar negeri, kini terkenal seantero bumi. Ronaldo lantas tidak menjadi kacang lupa pada kulitnya. Ia mendirikan sejumlah fasilitas sepak bola dan pendukung wisata, mulai dari kampus olahraga, museum dan hotel di Funchal.